Kategori

Sajak (43) Syair Rakyat (20) Status FB (17) Puisi Aneh (12) Bau Cinta (8) Puisi Pelit (8) Cerpen (4) Esai (3) Perpustakakakakan (1)
Showing posts with label Puisi Aneh. Show all posts
Showing posts with label Puisi Aneh. Show all posts

Thursday, May 5, 2011

Tentang pernikahan

oleh : Bhara Martilla Rully Ardian
Kemis, November 18, 2010 jam 6:49pm

Aku cium wangi mayatmu dari bak sampah di ujung gang. Lalu aku suruh orang mendandanimu supaya cantik. Kemarin di tepat jam 12 sing, langit mendung menahan tangis. Aku dan dirimu bersanding di kursi pelaminan. Tendanya berwarna biru seperti pintamu dulu. Keras lagu campursari menerjang telingaku. Satu jam setelah menikah. Setelah aku berpikir keras karna pengakuanmu setelah penghulu mengucap sah!. Aku meninggalkanmu, karna kecewa dan malu. Maafkan karna prinsip bagiku Tuhan.

matahari selalu terbit dari timur di kepalamu

oleh : Bhara Martilla Rully Ardian
Selasa, November 23, 2010 jam 4:56pm

Bau kutang mamakmu tercium diujung jari kakimu. Setidaknya gincu menandai itu. Oh rangkaian tari tarian di makam pangeran Samudra, mengajak nafsu mencumbu malaikat palsu. Pada laku laku belagu. Jika nestapa menari nari merayau pada segala yang tabu. Oh aduhai siapa kau punya guru, hingga tak tahu perdu perdu. Lalu rambu rambu. Matahari terbit selamanya dari timur di kepalamu.

Friday, April 29, 2011

Pengemis kondom pembungkus malu

oleh : Bhara Martilla Rully Ardian

Pengemis kondom pembungkus malu
Senèn, November 15, 2010 jam 6:38pm


Papan reklame berebut tempat dengan ruko ruko di pecinan. Temaram lampu lampu beradu sombong. Juga pengemudi pengemudi tak mau mengalah memperebutkan lima menit waktu lebih cepat sampai ke tujuan. Hal hal rutin yang selalu menjadi saksimu berjalan tiap jam 9 malam. Di pojok pertigaan tepat di bawah papan iklan sabun colek kau selalu berhenti sejenak. Membungkukan badanmu sembari menyerahkan recehan ke pengemis buntung yang selalu menjual dirinya disitu. Tak tahu apa yang kau cari dari pengemis itu, mungkin karna kepuasan atau hanya sekedar kau merasa punya kuasa atas pengemis itu. Ya aku selalu ingat betul dengan segala tentangmu di pecinan itu. Baumu, desahmu aku hafal betul. Kau tahu manis?, aku tak pernah menggunakan setiap koin darimu. Aku menyimpanya rapat rapat di kantongku. Aku bungkus dengan kondom seharga tahu maluku. Agar kau tetap datang kemari untuk sekedar menyapaku. Aku pengemis buntung yang mahir membuatmu tersipu. Yang selalu dan selalu kau tuju.

Friday, April 15, 2011

bersama kucing, anjing dan pohon kaktus: tertawa!

oleh : Bhara Martilla Rully Ardian

bersama kucing, anjing dan pohon kaktus: tertawa!

Sebuah bayi mengaji di malam jingga kemarin siang. Di ujung sana ruh ruh mencari ruang ruang. "Siapa bapakmu?". Detik setelah detak memaksa gergaji ngakak memenggal kepala kepala syariat etika keberbusanaan. "Wajahmu melebam!", teriakan dari sudut gang gelap. Lalu sepasang nenek asik mencabuli dirinya diketerasingan. Bulan jatuh malam itu. Menyetubuhi bumi. Dan lalu pasang surut menjadi warna warni. Bayi bayi menjadi bergoyang. Mengenal yakin. Mencumbu cinta. Tangan tangan itu bersambut di perut buncit pelacur. Dikalungkanya laso kesadaran di lehernya. Tepat jam empat pagi dia jumpai mani, kotoran, liur dan dirinya berdendang lagu pemakaman bersama kucing, anjing dan pohon kaktus. Tertawa.

Wednesday, April 13, 2011

Fiksijumbo?

oleh : Bhara Martilla Rully Ardian

Fiksijumbo?
by Bhara Martilla Rully Ardian on Rèbo, Oktober 27, 2010 jam 12:49pm

Malam itu, tak terlalu larut seingatku. Aku masih saja duduk terbatu di teras hatimu. Padahal tanganmu sudah melambai memberi tanda bagiku untuk maju bercumbu. Tapi tetap saja aku membatu, mataku berkaca-kaca, hatiku ragu. Tak beberapa saat aku lihat kau marah dan berlalu. Kujumpai lelaki itu mulai merancu, gombal sana sini tentang keabadian. Bualanya aku paham betul karna telah kupelajari sejak beberapa tahun lalu. Akhirnya pria itu membuka pintu kamar dan memandumu masuk di dalamnya. Aku tak sempat menyesal. Tak sempat. Melihatmu mabok oleh bualan cinta. Di sini, masih di teras hatimu. Kurangkai beribu kata maaf akan egoku. Aku berlalu di pagi itu, merapikan kamarmu dengan gegas. Kutuliskan "Maaf karna belum sempat aku kenalkan dirimu pada hatiku, tak kusentuh secuilpun dirimu semalam, entah kau menyebut aku pria apa. Aku berlalu, tak usah menangis karna aku tak sejahat inginmu." di selembar kertas kenangan agar kau tahu letak salahku.

Dua pertanyaan sebelum hajiku

oleh : Bhara Martilla Rully Ardian

Dua pertanyaan sebelum hajiku
by Bhara Martilla Rully Ardian on Selasa, February 1, 2011 jam 7:47am

Memulai ketidakpercayaan dari bunga bunga. Di surga tak harus berbaju putih semua. Aku suka jelaga di pagi sepertiga. Aku tidur dan lalu mendaur. Ayam, anjing, kiyai sama saja. Antar aku ke Gangga. Memberikan kepalaku pada buaya karma. Lalu gergaji hatiku menjadi lima biji sama rata. Untukmu, untuknya, untuk dia, untuk dia yang satunya dan untuk belatung di bawah sajadah tuan itu. Lalu kakiku bakar saja, setubuhi badanku empat kali walau aku tak berwajah. Tak bermani. Di masjid tepat setelah subuh dingin itu. Lamarlah kedua tanganku seharga mahar dua ribu perak. Lalu ucap sah semurah janji dan doaku. Kau lihat kasih?, aku hanya ingin mati di Mahameru menghisap racun Gustiku. Jonggring Salaka jam 6 sore itu. Pelaminanku. Dua pertanyaan sebelum hajiku.

Monday, April 11, 2011

Pemuda tua di rumah pohon tinggi julang

oleh : Bhara Martilla Rully Ardian


Pemuda tua di rumah pohon tinggi julang
by Bhara Martilla Rully Ardian on Kemis, November 25, 2010 jam 2:29pm
Pemuda tua di rumah pohon nan tinggi julang. Di daun, di pohon, di atas palang. Menyanyi lagu negri, begitu sayu, ngilu. Anak anak rindu di kalbu. Pemuda tua menanak nasi sangka. Istrinya jiwa jiwa tanya. Oh pada air dia minta api. Pada kecewa dia bertuhan. Pemuda tua di rumah pohon nan tinggi julang. Menanam onak di daging. Memelihara anjing di hati. Lalu jiwa jiwa tak nyaman. Beradu adu mendamba pergi. Oh pemuda tua melangkah. Pikir menuju pikir. Tak makan, tak minum, tak menikah, tak beranak. Julang julang tembok tinggi, lalu kota kota tak dihuni.

Dan dia masih menyuruh kita senam SKJ serta minum susu ibu di pagi itu

oleh : Bhara Martilla Rully Ardian

Dan dia masih menyuruh kita senam SKJ serta minum susu ibu di pagi itu
by Bhara Martilla Rully Ardian on Jumat, December 17, 2010 jam 5:26am

Kenarsisan sinar tersier di kemilau pilihan laku. Sepasang rasa sombong dan congak menggebu mengecat segalanya menjadi ungu tua. Selintas sinar terang mengacaukan prinsip. Lalu liang liang katak berisi air sembilu bercampur ambigu rasa. Tertata papan catur di teras mulia tukang ojek di depan komplek. Dua sahabat saling tikam pion demi raja yang hanya mampu bergerak selangkah. Kelelawar keluar siang hari. Malam dipimpin harimau tuli sedang siang diratui musang buta. Di mall terlihat tante dan om tak tahu umur. Segala kewarasan hanya ketidakwarasan yang belum disadari. Inilah hidup, ada yang makan nasi dan ada yang membuang emas. Dan aku? Ah dan aku. Tertawa sesukaku karna lucu menurutku. Banyak yang rindu kedataran. Kau lihat sepasang muda mudi itu? Hahaha, lucu, sangat lucu. Lalu aku pilu. Menjadi tak nyaman oleh kerja bakti gotong royong di pagi yang tertulis jam 7. Padahal aku dengar info jam 9 ada banjir mimpi buruk. Dan dia masih menyuruh kita senam SKJ serta minum susu ibu di pagi itu.

-anjing hutan melolong jam 7 pagi, telanjang!-

oleh : Bhara Martilla Rully Ardian

Anjing hutan melolong jam 7 pagi, telanjang!
by Bhara Martilla Rully Ardian on Jumat, November 12, 2010 jam 2:56pm
Bhara Martilla Rully Ardian

-anjing hutan melolong jam 7 pagi, telanjang!-


Jam berdenting di jam 7 pagi itu. Anjing hutan masih melolong. Kelelawar hitam keluar goa turun ke ladang candu. Hai perempuan berasap di sana, aku ajak kau ke Mandalawangi, melihat hamparan bunga abadi. Lalu kita ke Hawai, berselancar dengan bak mandi. Tanpa busana. Seperti anjing kota yang minum susu. Jam berdenting jam 7 pagi. Membangunkanku disaat sepi. Suara TV menghantarkan mata terpaksa melotot. Anjing hutan sekali lagi melolong. Samar samar kulihat cermin memberi isyarat: bangunlah.

-lelaki bosanofa di redup malam lajang-

oleh : Bhara Martilla Rully Ardian

Lelaki bosanofa di redup malam lajang
by Bhara Martilla Rully Ardian on Saturday, November 13, 2010 jam 3:06am
Bhara Martilla Rully Ardian

-lelaki bosanofa di redup malam lajang-

Merintih suara di ujung gang, di pinggir kali. Dari pria pria seumuranku. Menggali bait bait lembut kapas dari kasur yang coba dibakar perlahan. Bau itu irama. Lalu malam dan secangkir kopi tawa melantun bincang. Di malam kejujuran. Pria pria seumuranku membicarakan usik yang mengusik. Tawa getir lalu senyum itu menjadi sejadi jadinya. Ya lelaki bosanofa di redup malam lajang. Menjadi pria. Menjadi rasa. Irama oh irama. Esok kan lebih berat dari asap yang kau buat bulat. Ada tawa yang mesti kau tawai. Cangkul cangkul lelaki bosanofa, maka lalu pria pria meraba. Belajar membajak dan membangun rumah sederhana. Di tepi kali di ujung gang bahaya. Banjir dan pengamen memintamu sedia recehan. Lalu susu bagi anjing piaraanmu. Juga buku dan pensil warna untuk darah dagingmu.

-Tak ada Tuhan di jam 12 siang itu-

oleh : Bhara Martilla Rully Ardian

Tak ada Tuhan di jam 12 siang itu
by Bhara Martilla Rully Ardian on Senèn, November 15, 2010 jam 9:05pm
Bhara Martilla Rully Ardian

-Tak ada Tuhan di jam 12 siang itu-


Tak ada Tuhan di jam 12 siang itu. Tepat di bulan Juni 12 tahun silam. Semuanya anjing. Tak pernah ada Tuhan siang itu. Tak di abu tulang tulang itu. Tak di peluru peluru itu. Tak di darah darah itu. Lalu dentum dentum mengingatkanku di Nanjin, di Hiroshima, di tepi pantai Badung, di kamp kamp konsentrasi Holocaust, di Kupang. Api api itu membawaku kembali ke masa genosida Pol Pot dan khmer merahnya, masa Ariel Sharon yang membantai masal warga di Sabra dan Shatila, lalu Joseph Stalin dan kebijakan politiknya. Tak ada suara Tuhan siang itu. Ketika manusia menjadi Tuhan berprilaku anjing. Demi memakan tanah, lalu logam dan lalu laut. Kau tahu yang menarik dari semua itu?, semuanya tertawa. Tertawa!.

Selanjutnya kita terbang ke Antartika, membawa matahari


-selanjutnya kita terbang ke Antartika, membawa matahari-

Menikmati secangkir teh Kamille panas di sebuah desa di perbukitan Andes, berasama seorang wanita Spanyol. Oh andaikata salju tak setebal abu yang menyelimuti Borobudur akhir akhir ini, mungkin nikmat karna lebih hangat. Tak seasing ini. Terlalu dingin. Kau tahu?, aku lebih suka membawamu menikmati Venesia di atas sebuah Pinisi usang. Hingga sungai sungai dan jembatan jembatan keindahan itu hancur terterjang. Tak tahu. Mungkin dengan begitu aku tahu kejujuran. Seperti menikmati teh olong seribu perak di tepi Malioboro dan kau tak menjadi wanita Spanyol yang terlalu wah. Aku lebih suka melihatmu berpakaian busana ke sawahmu. Penuh lumpur. Kesederhanaan menurutku adalah segala galanya di dirimu. Sudah begitu saja, tampakan dirimu seasli aslinya. Menjadilah anjing betina, tak perlu mandi atau berbaju ala pemudi Turki di Munchen. Aku tak bercumbu dengan itu. Lalu menyanyilah dengan fals, menarilah dengan seaneh mungkin. Setelah itu kita terbang ke Antartika, membawa matahari.

Yang rajin ditengok rakyat syair :