oleh : Bhara Martilla Rully Ardian
Pagut pagut itu tak kunjung susut,
membuat lekas lekas menjadi memburu waktu yang cepat lepas,
aku di keranjang sampah masa depan, berenang!
Mayat mayat riwayat tak mengumat, tak sempat!
Esok itu sejarah menderu, konsonansi pergerakan perubahan, memekik!
Kemarin itu mimpi, anjing tidur di kolong alasan keladi, menari!
Emak!, aku di puncak payudara bumi, berenang!, di punting menari bersama celeng.
Emak?, aku di lembah, di dubur tabiat!, berdoa bersama segerombol mani.
Bapak?, apa itu emak?. Lalu di mana kasihku pak?,
tidak punyakah aku sandaran kepastian?
Pak, emak, aku seharusnya punya kenangan,
semestinya punya riwayat,
setidaknya tape compo bobrok itu pernah merekamku sebelum mati.
Lihat!, Hebat Pak, Mak, aku punya cucu!
Dia tidur pulas di khayalan buruh,
siang itu dia menyeka keringatku,
aku siap berpeluh di pabrik milik para pelit itu Pak!
gantung diri!
Kategori
Sajak
(43)
Syair Rakyat
(20)
Status FB
(17)
Puisi Aneh
(12)
Bau Cinta
(8)
Puisi Pelit
(8)
Cerpen
(4)
Esai
(3)
Perpustakakakakan
(1)
Showing posts with label Syair Rakyat. Show all posts
Showing posts with label Syair Rakyat. Show all posts
Monday, June 13, 2011
Wednesday, May 4, 2011
Humanis
oleh : Bhara Martilla Rully Ardian
Selasa, December 29, 2009 jam 7:21am
mulutku merancu, tentang hal yang tak penting, tentang hari esok yang terlupa, aku menjadi usang, menjadi terlupakan oleh perubahan, menjadi tertinggal oleh kesombongan, sekarang aku diam, mungkin esok akan berperang, menjajah saudaraku seperti kini mereka memeras saudaranya, kemarin aku melantang, entah sekarang ak umati suri, pingsan oleh segala yang pernah peka, oleh semangat nasionalis orang orang kiri, oleh politikus yang menjanjikan rumah baru, oleh ulama yang memberi petuah sabar, merenung aku sendiri, tak ingin menjadi apa, linglung oleh maksud jaman, oleh persaingan sodaramu yang saling tikam, aku disini yang tak pernah melantang untuk mengucap aku cinta bangsa, masih peduli, masih mengiba, masih berpikir, tentang bagaimann saudaraku, tentang bagaimana kelaparan, apa itu ketidak adilan, peduli tai kucing dengan nasionalis yangg mementingkan itu itu saja, mendebatkan yang tak penting, terlalu dalam, terlalu besar,l ihatlah kesekitar, sodaramu mati telanjang, sodaramu sekarat terperkosa jaman, mati memuja uang.
Selasa, December 29, 2009 jam 7:21am
mulutku merancu, tentang hal yang tak penting, tentang hari esok yang terlupa, aku menjadi usang, menjadi terlupakan oleh perubahan, menjadi tertinggal oleh kesombongan, sekarang aku diam, mungkin esok akan berperang, menjajah saudaraku seperti kini mereka memeras saudaranya, kemarin aku melantang, entah sekarang ak umati suri, pingsan oleh segala yang pernah peka, oleh semangat nasionalis orang orang kiri, oleh politikus yang menjanjikan rumah baru, oleh ulama yang memberi petuah sabar, merenung aku sendiri, tak ingin menjadi apa, linglung oleh maksud jaman, oleh persaingan sodaramu yang saling tikam, aku disini yang tak pernah melantang untuk mengucap aku cinta bangsa, masih peduli, masih mengiba, masih berpikir, tentang bagaimann saudaraku, tentang bagaimana kelaparan, apa itu ketidak adilan, peduli tai kucing dengan nasionalis yangg mementingkan itu itu saja, mendebatkan yang tak penting, terlalu dalam, terlalu besar,l ihatlah kesekitar, sodaramu mati telanjang, sodaramu sekarat terperkosa jaman, mati memuja uang.
Supir Angkot Menggugat
oleh : Bhara Martilla Rully Ardian
supir angkot menggugat
siapa suruh kredit motor seperti jual krupuk!
supir angkot makin meringkuk
siapa suruh harga hape seperti harga acar!
supir angkot kalah sama jemputan pacar
siapa suruh premium dijual ke orang orang kaya!
supir angkot kalah tenar sama kendaraan pribadi
supir angkot menggugat!
berak keringat
makan angin
supir angkot menggugat!
ketiak juragan
himpitan hutang
supir angkot menggugat!
minta hari angkot dijadikan hari nasional
supir angkot menggugat!
minta hari supir dijadikan hari nasional
supir angkot menggugat!
kesetaraan dengan buruh
kesetaraan dengan pekerja
supir angkot menggugat!
minta LSM
minta parpol
supir angkot menggugat
siapa suruh kredit motor seperti jual krupuk!
supir angkot makin meringkuk
siapa suruh harga hape seperti harga acar!
supir angkot kalah sama jemputan pacar
siapa suruh premium dijual ke orang orang kaya!
supir angkot kalah tenar sama kendaraan pribadi
supir angkot menggugat!
berak keringat
makan angin
supir angkot menggugat!
ketiak juragan
himpitan hutang
supir angkot menggugat!
minta hari angkot dijadikan hari nasional
supir angkot menggugat!
minta hari supir dijadikan hari nasional
supir angkot menggugat!
kesetaraan dengan buruh
kesetaraan dengan pekerja
supir angkot menggugat!
minta LSM
minta parpol
Monday, May 2, 2011
berak, kencing, kentut dan mani
oleh : Bhara Martilla Rully Ardian
berak penduduk itu amanah pemimpin
berak bisa memicu bom pemberontakan
kencing penduduk itu amanah pemimpin
kencing bisa memicu bom pergerakan
kentut penduduk itu amanah pemimpin
kentut bisa memicu bom demonstrasi
air mani penduduk itu amanah pemimpin
air mani bisa memicu bom parlawanan
berak pemimpin itu amanah penduduk
berak bisa memicu bom kesenjangan
kencing pemimpin itu amanah penduduk
kencing bisa memicu bom ketidakadialan
kentut pemimpin itu amanah penduduk
kentut bisa memicu bom kemarahan
air mani pemimpin itu amanah penduduk
air mani bisa memicu bom keputus asaan
berak penduduk itu amanah pemimpin
berak bisa memicu bom pemberontakan
kencing penduduk itu amanah pemimpin
kencing bisa memicu bom pergerakan
kentut penduduk itu amanah pemimpin
kentut bisa memicu bom demonstrasi
air mani penduduk itu amanah pemimpin
air mani bisa memicu bom parlawanan
berak pemimpin itu amanah penduduk
berak bisa memicu bom kesenjangan
kencing pemimpin itu amanah penduduk
kencing bisa memicu bom ketidakadialan
kentut pemimpin itu amanah penduduk
kentut bisa memicu bom kemarahan
air mani pemimpin itu amanah penduduk
air mani bisa memicu bom keputus asaan
Jika rakyat bikin puisi
oleh : Bhara Martilla Rully Ardian
Kamar saya gelap
mirip kamar aktivis
cat tembok saya usang
mirip pelaku teroris
yang saya tulis benci
yang saya karya tabu
tak ada indah
realitas tak begitu
tak melulu
ruang saya suram
persis ruang makar
kasur saya bau
persis pekerja seks
yang saya tulis tangis
yang saya karya mani
realitas tak begitu
tak melulu
nama saya kecil
nama saya susah
nama saya mlarat
panggil saya rakyat
Kamar saya gelap
mirip kamar aktivis
cat tembok saya usang
mirip pelaku teroris
yang saya tulis benci
yang saya karya tabu
tak ada indah
realitas tak begitu
tak melulu
ruang saya suram
persis ruang makar
kasur saya bau
persis pekerja seks
yang saya tulis tangis
yang saya karya mani
realitas tak begitu
tak melulu
nama saya kecil
nama saya susah
nama saya mlarat
panggil saya rakyat
Puisi itu apa tuan penyair?
oleh : Bhara Martilla Rully Ardian
Puisi itu apa tuan penyair?
apa yang tampak dramatis?
untuk apa yang seperti itu tuan?
kehidupan jemu oleh kedramatisan
Puisi itu bagaimana tuan penyair?
apa yang tampak indah?
untuk apa yang seperti itu tuan?
kehidupan bosan dengan keterbuaian
adakah puisi yang mampu mengganjal lapar?
adakah puisi yang mampu membuat kami bergoyang?
adakah?
Puisi itu apa tuan penyair?
apa yang tampak dramatis?
untuk apa yang seperti itu tuan?
kehidupan jemu oleh kedramatisan
Puisi itu bagaimana tuan penyair?
apa yang tampak indah?
untuk apa yang seperti itu tuan?
kehidupan bosan dengan keterbuaian
adakah puisi yang mampu mengganjal lapar?
adakah puisi yang mampu membuat kami bergoyang?
adakah?
Rakyat Bercinta
oleh : Bhara Martilla Rully Ardian
rakyat bercinta di swalayan
pake nafsu, ahh gila nian
remas remas BH
usuk usuk celana dalam
rakyat bercinta di jalan jalan
pake rayuan
belai belai sepeda motor
pijit pijit jok mobil
rakyat udah gila sensasi
pake mau makan gengsi
AC, butik, hotel
semua mewah bikin nafsu birahi
rakyat bercinta di toko hape
pake siulan
gilik gilik hape baru
jilat jilat voucher pulsa
rakyat bercinta di pasar
pake tangisan
damba damba beras
ratap ratap daging ayam
rakyat bercinta di sekolahan
pake jeritan
endus endus buku tulis
rayu rayu uang SPP
rakyat udah gila nurani
sulit mau makan nasi
ikan asin, aking, kolong jembatan
semua kebutuhan bikin nafsu mati
rakyat bercinta di swalayan
pake nafsu, ahh gila nian
remas remas BH
usuk usuk celana dalam
rakyat bercinta di jalan jalan
pake rayuan
belai belai sepeda motor
pijit pijit jok mobil
rakyat udah gila sensasi
pake mau makan gengsi
AC, butik, hotel
semua mewah bikin nafsu birahi
rakyat bercinta di toko hape
pake siulan
gilik gilik hape baru
jilat jilat voucher pulsa
rakyat bercinta di pasar
pake tangisan
damba damba beras
ratap ratap daging ayam
rakyat bercinta di sekolahan
pake jeritan
endus endus buku tulis
rayu rayu uang SPP
rakyat udah gila nurani
sulit mau makan nasi
ikan asin, aking, kolong jembatan
semua kebutuhan bikin nafsu mati
Aku Ingin Jadi Buruh
oleh : Bhara Martilla Rully Ardian
Aku ingin jadi rakyat yang angkuh
aku ingin jadi manusia yang cuek
aku ingin jadi tetangga
aku ingin jadi sampah
buruh, aku tak takut jadi buruh
kujinjing tas berisi buku sekoalah
tiap pagi
tiap siang
aku tak takut jadi buruh
buruh, aku tak takut jadi buruh
kujinjing tas berisi catatan kuliah
tiap pagi
tiap petang
aku tak takut jadi buruh
tidak, aku tak berharap cemas akan nanti
aku hanya takut mati
tidak, aku tak takut hidup
esok aku jadi buruh
setelah lulus
bergelar anak sekolahan
bergelar anak kuliahan
aku jadi buruh
berijazah
aku bahagia
Aku ingin jadi rakyat yang angkuh
aku ingin jadi manusia yang cuek
aku ingin jadi tetangga
aku ingin jadi sampah
buruh, aku tak takut jadi buruh
kujinjing tas berisi buku sekoalah
tiap pagi
tiap siang
aku tak takut jadi buruh
buruh, aku tak takut jadi buruh
kujinjing tas berisi catatan kuliah
tiap pagi
tiap petang
aku tak takut jadi buruh
tidak, aku tak berharap cemas akan nanti
aku hanya takut mati
tidak, aku tak takut hidup
esok aku jadi buruh
setelah lulus
bergelar anak sekolahan
bergelar anak kuliahan
aku jadi buruh
berijazah
aku bahagia
Friday, April 29, 2011
I n d o n e s i a r a j a
oleh : Bhara Martilla Rully Ardian
I n d o n e s i a r a j a
Kemis, November 11, 2010 jam 4:04am
orang lapar harus hobi tidur,
biar tangis jadi dengkur,
bayi keren harus berperut buncit gembur,
agar kurang gizi disangka makmur,
orang sakit harus berkartu free pass,
agar tak mampu tertutup jas,
anak mlarat harus sekolah gratis,
agar bupati dicoblos laris,
negara kuat harus punya koruptor,
supaya negara kelihatan makmor,
tentara harus bersenjata,
agar dengan tuduh separatis bisa tembak rakyat punya kepala,
kyai kondang harus beristri tiga,
agar dirinya sama dengan nabinya,
ormas tulen harus punya senjata,
supaya disangka punya kuasa,
pemimpin hebat harus gemar berjanji,
supaya tak menepati dianggap tradisi,
orang terkenal harus masuk bui,
supaya asoi dan penuh sensasi,
rakyat teladan mesti makan nasi aking,
supaya seperti model kelas ternama yang ceking,
orang punya Tuhan harus blajar teriak,
agar ketika ngawur tak lekas beranjak,
aparat asoi harus seperti pragawati,
biar bengis dianggap seksi.
I n d o n e s i a r a j a
Kemis, November 11, 2010 jam 4:04am
orang lapar harus hobi tidur,
biar tangis jadi dengkur,
bayi keren harus berperut buncit gembur,
agar kurang gizi disangka makmur,
orang sakit harus berkartu free pass,
agar tak mampu tertutup jas,
anak mlarat harus sekolah gratis,
agar bupati dicoblos laris,
negara kuat harus punya koruptor,
supaya negara kelihatan makmor,
tentara harus bersenjata,
agar dengan tuduh separatis bisa tembak rakyat punya kepala,
kyai kondang harus beristri tiga,
agar dirinya sama dengan nabinya,
ormas tulen harus punya senjata,
supaya disangka punya kuasa,
pemimpin hebat harus gemar berjanji,
supaya tak menepati dianggap tradisi,
orang terkenal harus masuk bui,
supaya asoi dan penuh sensasi,
rakyat teladan mesti makan nasi aking,
supaya seperti model kelas ternama yang ceking,
orang punya Tuhan harus blajar teriak,
agar ketika ngawur tak lekas beranjak,
aparat asoi harus seperti pragawati,
biar bengis dianggap seksi.
Indonesia menangis oleh kata kata dari bahasanya. Sendiri!.
oleh : Bhara Martilla Rully Ardian
Indonesia menangis oleh kata kata dari bahasanya. Sendiri!.
Jumat, November 26, 2010 jam 2:45am
Apa negri bisa menangis?, ah menurut kalimat bisa. Sungguh.
Aku tak tahu apa kata kata yang tersebut tangguh memamang mampu?, ah negriku menangis.
Oleh kata kata yang tersebut kalimat, dari bahasa negriku juga. Bahasa Indonesia kalau tidak salah. Ah Indonesia bisa menangis karna kata kata dalam bahasanya. Sendiri!. Miris!. Sungguh!.
Indonesia menangis oleh kata kata dari bahasanya. Sendiri!.
Jumat, November 26, 2010 jam 2:45am
Apa negri bisa menangis?, ah menurut kalimat bisa. Sungguh.
Aku tak tahu apa kata kata yang tersebut tangguh memamang mampu?, ah negriku menangis.
Oleh kata kata yang tersebut kalimat, dari bahasa negriku juga. Bahasa Indonesia kalau tidak salah. Ah Indonesia bisa menangis karna kata kata dalam bahasanya. Sendiri!. Miris!. Sungguh!.
Beta oh beta negri beta jaya di mimpi mimpi
oleh : Bhara Martilla Rully Ardian
Beta oh beta negri beta jaya di mimpi mimpi
Rèbo, November 24, 2010 jam 11:43pm
bapak pernah bernyanyi tentang negri
nyiur melambai lambai
oh aduhai
kaya hutan hutan
juga hewan hewan
tanahku tanah surga
oh indahnya
sumber daya alam melimpah
juga laut laut meriah
nusantar jaya
oh bahagianya
anak anak bersekolah
bapak bapak bajak sawah
bapaku pernah bermimpi
nyanyi nyanyi mimpi
oh kasihani
nada nada harap
oh meratap
irama irama lapar
oh sungguh liar
bapaku menyanyi supaya tidurku lelap
bangun oh bangun
aku pilih melamun
sadar oh sadar
aku pilih tidur
negriku oh negriku
negri busung lapar
negri putus sekolah
negri lapar melapar
negriku oh negriku
tidurlah tidur
supaya hidup
mimpi dan mimpi
haha hihi
indonesia tanah air beta
beta oh beta
menangis lara
merdeka dan merdeka
oleh bedil bedil
dari penjajah eropa
juga asia
yang terampun bambu runcing
juga beling beling
kita merdeka
oh kata siapa
teman beta penguasa
juga pengusaha
beta oh beta
masih juga disiksa
oleh teman beta
biarkan saja
tidur oh tidur
beta tidur mendengkur
karna takut hidup
karna esok masih redup
beta oh beta
negri beta tipu daya
oh beta
lara oh lara.
Beta oh beta negri beta jaya di mimpi mimpi
Rèbo, November 24, 2010 jam 11:43pm
bapak pernah bernyanyi tentang negri
nyiur melambai lambai
oh aduhai
kaya hutan hutan
juga hewan hewan
tanahku tanah surga
oh indahnya
sumber daya alam melimpah
juga laut laut meriah
nusantar jaya
oh bahagianya
anak anak bersekolah
bapak bapak bajak sawah
bapaku pernah bermimpi
nyanyi nyanyi mimpi
oh kasihani
nada nada harap
oh meratap
irama irama lapar
oh sungguh liar
bapaku menyanyi supaya tidurku lelap
bangun oh bangun
aku pilih melamun
sadar oh sadar
aku pilih tidur
negriku oh negriku
negri busung lapar
negri putus sekolah
negri lapar melapar
negriku oh negriku
tidurlah tidur
supaya hidup
mimpi dan mimpi
haha hihi
indonesia tanah air beta
beta oh beta
menangis lara
merdeka dan merdeka
oleh bedil bedil
dari penjajah eropa
juga asia
yang terampun bambu runcing
juga beling beling
kita merdeka
oh kata siapa
teman beta penguasa
juga pengusaha
beta oh beta
masih juga disiksa
oleh teman beta
biarkan saja
tidur oh tidur
beta tidur mendengkur
karna takut hidup
karna esok masih redup
beta oh beta
negri beta tipu daya
oh beta
lara oh lara.
Thursday, April 28, 2011
Disini aneh hebat.
oleh : Bhara Martilla Rully Ardian
Disini aneh hebat.
Selasa, March 23, 2010 jam 3:30am
cahaya pernah memedar di ruang ini, dahulu, kemarin, baru saja.
peluh akan usaha merona sudah, sampai letih, jatuh dan bangun lagi, lagi.
sejarah bukanlah riwayat yang kan mudah diubah.
disana, jauh direlung pernah terdengar cerita.
oleh ombak yang memeram angin, gempa yang menguat gunjing.
di ruang ini pernah terdengar, dentum pelana pelana mimpi, wangi cumbu misiu.
nasib perubahan pernah ada di sekitar ini, di tangan tangan kecil yang mengepal ke atas,
menunjuk pada puluh ratusan burung burung besi yang memerahkan tanah ini, menjatuhkan ribuan kubik malaikat maut.
selanjutnya entah kapan anak negri bebas menyebut jati diri, memilh mimpi dan asa.
lalu sekarang, entah dimulai dari kapan, bayi bayi menangis tak punya harap, wanita terkebiri norma.
apa semua akan mampu mencium aroma nasi?
di ruang ini sekarang, gelap mencekam, tak ada arah, bermimpipun takut,
di ruang ini sekarang, pantat pantat konglomerat bebas ditempeli bendera, dilukis muka wajah bapak ibumu.
Disini aneh hebat.
Selasa, March 23, 2010 jam 3:30am
cahaya pernah memedar di ruang ini, dahulu, kemarin, baru saja.
peluh akan usaha merona sudah, sampai letih, jatuh dan bangun lagi, lagi.
sejarah bukanlah riwayat yang kan mudah diubah.
disana, jauh direlung pernah terdengar cerita.
oleh ombak yang memeram angin, gempa yang menguat gunjing.
di ruang ini pernah terdengar, dentum pelana pelana mimpi, wangi cumbu misiu.
nasib perubahan pernah ada di sekitar ini, di tangan tangan kecil yang mengepal ke atas,
menunjuk pada puluh ratusan burung burung besi yang memerahkan tanah ini, menjatuhkan ribuan kubik malaikat maut.
selanjutnya entah kapan anak negri bebas menyebut jati diri, memilh mimpi dan asa.
lalu sekarang, entah dimulai dari kapan, bayi bayi menangis tak punya harap, wanita terkebiri norma.
apa semua akan mampu mencium aroma nasi?
di ruang ini sekarang, gelap mencekam, tak ada arah, bermimpipun takut,
di ruang ini sekarang, pantat pantat konglomerat bebas ditempeli bendera, dilukis muka wajah bapak ibumu.
KTP; kartu tamat pasti
oleh : Bhara Martilla Rully Ardian
KTP; kartu tamat pasti
Sunday, September 5, 2010 jam 8:22pm
Kadang hanya ingin kembali ke rumah hayal.
Duduk bersila di ujung mimpi ketidaktauhan.
Secangkir kopi penghapus pertanyaan mungkin sepadan.
Juga kicau burung-burung piaraan disangkar imaji melupakan.
Di dapur aku lihat istriku memasak ragu.
Di halaman, di bawah pohon masa depan aku lihat anak-anaku bermain was-was.
Sejurus pandanganku putih, aku tertidur.
Bermimpi akan cita-cita,
akan tujuan.
Bermimpi akan penyesalan.
Akan sangkaan.
Sejenak aku terbangun oleh berita.
Di KTP-ku tertulis berwarga negara Indonesia.
Buruh kasar.
Pasti miskin.
Pasti bodoh.
KTP; kartu tamat pasti
Sunday, September 5, 2010 jam 8:22pm
Kadang hanya ingin kembali ke rumah hayal.
Duduk bersila di ujung mimpi ketidaktauhan.
Secangkir kopi penghapus pertanyaan mungkin sepadan.
Juga kicau burung-burung piaraan disangkar imaji melupakan.
Di dapur aku lihat istriku memasak ragu.
Di halaman, di bawah pohon masa depan aku lihat anak-anaku bermain was-was.
Sejurus pandanganku putih, aku tertidur.
Bermimpi akan cita-cita,
akan tujuan.
Bermimpi akan penyesalan.
Akan sangkaan.
Sejenak aku terbangun oleh berita.
Di KTP-ku tertulis berwarga negara Indonesia.
Buruh kasar.
Pasti miskin.
Pasti bodoh.
Gelitik Salah kaprah
oleh : Bhara Martilla Rully Ardian
Gelitik Salah kaprah
Senèn, August 10, 2009 jam 11:27pm
dimana semua ini berawal bila kita hanya sebuah benih yang ditanamkan.
dimana keimanan kita bila kita hanya seekor ternak.
dimana arah nurani kita bila kita hanya sebuah korban doktrin.
dimana letak hidup kita bila kita hanya sebuah asumsi.
dimana arti cinta dan kasih sayang kita bila kita hanya segurat makluk pemamrih.
dimana harga diri kita bila kita hanya makluk yg saling berhina.
apakah hati nurani selalu kalah dengan sariah dan ajaran yang terpaten.
apakah kebaikan selalu kalah dengan budaya dan kultur yang mengikat.
apakah kehebatan selalu kalah dengan ilmu ilmu yang termutahirkan.
apakah kebebasan selalu kalah dengan aturan aturan yang menorma.
apakah kelebihan selalu kalah dengan tata bahasa yang tertabukan.
apakah kejujuran selalu kalah dengan idiologi yang terbatasi.
lalu dimana letak arti hidup menurut anda?.
apakah berpikir dan mengutarakan pendapat slalu diartikan menantang?.
emosi dan egoistisitas memang melemahkan kita?.
nasionalitas dan kebangsaan kita memang membutakan kita?.
agama dan kepercayaan memang mengkotak kotak kita?.
sbenarnya apa arti persatuan yang hakiki, apa arti rasa kemanusiaan dan persaudaraan menurut hati anda?.
apakah menghujat dan saling menyesatkan?.
kita orang bebas, kita orang pintar, kita orang terhormat, pantaskah?.
pikirkan betapa besar kita, apakah sulit hanya tuk duduk bersama dan menampung perbedaan?.
apakah darah dan marah yg kita cari?.
sperti bapak bapak bangsa kita, pejuang kita, nenek moyang kita, yang menjadi besar karena keringat darah pertempuran?.
kita besar saudara, kita hebat kawan, kita dahsiat, hanya dengan berbijaksana, welas asih dan tenggang rasa.
kami tak butuh perang, kami tak butuh pahlawan, kami tak butuh pemimpin, kami sama, anda, saya, kamu, kita adalah sama, manusia..
Gelitik Salah kaprah
Senèn, August 10, 2009 jam 11:27pm
dimana semua ini berawal bila kita hanya sebuah benih yang ditanamkan.
dimana keimanan kita bila kita hanya seekor ternak.
dimana arah nurani kita bila kita hanya sebuah korban doktrin.
dimana letak hidup kita bila kita hanya sebuah asumsi.
dimana arti cinta dan kasih sayang kita bila kita hanya segurat makluk pemamrih.
dimana harga diri kita bila kita hanya makluk yg saling berhina.
apakah hati nurani selalu kalah dengan sariah dan ajaran yang terpaten.
apakah kebaikan selalu kalah dengan budaya dan kultur yang mengikat.
apakah kehebatan selalu kalah dengan ilmu ilmu yang termutahirkan.
apakah kebebasan selalu kalah dengan aturan aturan yang menorma.
apakah kelebihan selalu kalah dengan tata bahasa yang tertabukan.
apakah kejujuran selalu kalah dengan idiologi yang terbatasi.
lalu dimana letak arti hidup menurut anda?.
apakah berpikir dan mengutarakan pendapat slalu diartikan menantang?.
emosi dan egoistisitas memang melemahkan kita?.
nasionalitas dan kebangsaan kita memang membutakan kita?.
agama dan kepercayaan memang mengkotak kotak kita?.
sbenarnya apa arti persatuan yang hakiki, apa arti rasa kemanusiaan dan persaudaraan menurut hati anda?.
apakah menghujat dan saling menyesatkan?.
kita orang bebas, kita orang pintar, kita orang terhormat, pantaskah?.
pikirkan betapa besar kita, apakah sulit hanya tuk duduk bersama dan menampung perbedaan?.
apakah darah dan marah yg kita cari?.
sperti bapak bapak bangsa kita, pejuang kita, nenek moyang kita, yang menjadi besar karena keringat darah pertempuran?.
kita besar saudara, kita hebat kawan, kita dahsiat, hanya dengan berbijaksana, welas asih dan tenggang rasa.
kami tak butuh perang, kami tak butuh pahlawan, kami tak butuh pemimpin, kami sama, anda, saya, kamu, kita adalah sama, manusia..
Thursday, April 14, 2011
Selamat pagi Negari
oleh : Bhara Martilla Rully Ardian
Selamat pagi Negari
by Bhara Martilla Rully Ardian on Senèn, November 8, 2010 jam 2:18pm
Bhara Martilla Rully Ardian
-Selamat pagi Negari-
Selamat pagi, selamat menjadi babu babu zaman, mengitari kesibukan yang membuat sibuk menjadi ukuran, ayam ayam berkokok lalu malas malasan. Di sana, di pagi buta merona. Pundak dipaksa memangku anjing anjing bernama kelaparan. Kutengok tetangga sebelah minum teh dan membaca koran berisi ceritaku, cerita kami. Bernegara menurutku hanya kutukan. Maka dari itu anak anak mati gizi, lalu tak sekolah, dibilang bodoh dan tak berusaha. Ketahuilah bernegara hanya tarian eksotis, bagimu, bagi kita. Selamat pagi Nusantara, masuk sumur dalam dan berteriak tolong, tiada guna. Sungguh anjing lalu ayam lalu cacing beranak pinak di perut perut itu, juga di otak otak itu. Sungguh.
Selamat pagi Negari
by Bhara Martilla Rully Ardian on Senèn, November 8, 2010 jam 2:18pm
Bhara Martilla Rully Ardian
-Selamat pagi Negari-
Selamat pagi, selamat menjadi babu babu zaman, mengitari kesibukan yang membuat sibuk menjadi ukuran, ayam ayam berkokok lalu malas malasan. Di sana, di pagi buta merona. Pundak dipaksa memangku anjing anjing bernama kelaparan. Kutengok tetangga sebelah minum teh dan membaca koran berisi ceritaku, cerita kami. Bernegara menurutku hanya kutukan. Maka dari itu anak anak mati gizi, lalu tak sekolah, dibilang bodoh dan tak berusaha. Ketahuilah bernegara hanya tarian eksotis, bagimu, bagi kita. Selamat pagi Nusantara, masuk sumur dalam dan berteriak tolong, tiada guna. Sungguh anjing lalu ayam lalu cacing beranak pinak di perut perut itu, juga di otak otak itu. Sungguh.
Wednesday, April 13, 2011
-selamat hari pahlawan-
oleh : Bhara Martilla Rully Ardian
Selamat hari pahlawan
by Bhara Martilla Rully Ardian on Rèbo, November 10, 2010 jam 3:25am
Bhara Martilla Rully Ardian
-selamat hari pahlawan-
Kalau dulu pahlawan maen darah,
lalu 5 tahun brikutnya pahlawan harus bisa terbang ke segala arah,
lalu meningkat harus ahli retorika sampah,
selanjutnya harus pernah masuk bui rumah,
terbaru wajib punya rekor juara korupsi tingkat daerah,
lha cilakanya orang kelaparan dan tak mampu sekolah dilarang dijadikan nama jalan jalan,
bandar bandar udara dan pelabuhan,
kalau begitu selamat hari pahlawan,
di negeri penuh "superman".
Selamat hari pahlawan
by Bhara Martilla Rully Ardian on Rèbo, November 10, 2010 jam 3:25am
Bhara Martilla Rully Ardian
-selamat hari pahlawan-
Kalau dulu pahlawan maen darah,
lalu 5 tahun brikutnya pahlawan harus bisa terbang ke segala arah,
lalu meningkat harus ahli retorika sampah,
selanjutnya harus pernah masuk bui rumah,
terbaru wajib punya rekor juara korupsi tingkat daerah,
lha cilakanya orang kelaparan dan tak mampu sekolah dilarang dijadikan nama jalan jalan,
bandar bandar udara dan pelabuhan,
kalau begitu selamat hari pahlawan,
di negeri penuh "superman".
Suatu sa'at, pernah.
oleh : Bhara Martilla Rully Ardian
Suatu sa'at, pernah.
by Bhara Martilla Rully Ardian on Sunday, April 18, 2010 jam 5:42am
hujan menangis melihatmu mengingkari manis yang kau ucap, setidaknya masih terngiang.
apakah buruk raup sepenting itu sehingga menutup arti yang hakiki: tentang sebuah ikatan.
kau lihat binar itu?, melupa akan tingkah yang semanis ucap.
setidaknya kau pernah mengumbar mesra sewangi tuturmu.
di bawah hujan itu kulihat dia begitu bodoh, mengharapmu tuk sekedar menyentuh tubuhnya seperti apa yang jamak kautawarkan.
setidaknya kemarin sejak kau sunting ikrar dia menjadi milikmu.
sebelum kau pergi meninggalkanya tanpa sepatah penjelasan.
dan dia jatuh kembali ke prasangka hitam akan arti kesetiaan kaumu.
Suatu sa'at, pernah.
by Bhara Martilla Rully Ardian on Sunday, April 18, 2010 jam 5:42am
hujan menangis melihatmu mengingkari manis yang kau ucap, setidaknya masih terngiang.
apakah buruk raup sepenting itu sehingga menutup arti yang hakiki: tentang sebuah ikatan.
kau lihat binar itu?, melupa akan tingkah yang semanis ucap.
setidaknya kau pernah mengumbar mesra sewangi tuturmu.
di bawah hujan itu kulihat dia begitu bodoh, mengharapmu tuk sekedar menyentuh tubuhnya seperti apa yang jamak kautawarkan.
setidaknya kemarin sejak kau sunting ikrar dia menjadi milikmu.
sebelum kau pergi meninggalkanya tanpa sepatah penjelasan.
dan dia jatuh kembali ke prasangka hitam akan arti kesetiaan kaumu.
.jamak di depan.
oleh : Bhara Martilla Rully Ardian
.jamak di depan.
by Bhara Martilla Rully Ardian on Kemis, April 29, 2010 jam 6:52am
biarlah beban memberat sekarang,
bertubi kekhilafan jaman menguat sekarang,
memaksa senyum memalsu sepalsu palsunya,
tak ada bantuan, masih, masih tak ada,
hingga redup relung do'a, meronta pada nadir yang nyata,
terinjak, terhina, ahh karna kekuatan dunia bebas menginjak,
aku, kita, semoga esok datang melambat, membiarkan malam menidurkan pikir yang terlampau beban
.jamak di depan.
by Bhara Martilla Rully Ardian on Kemis, April 29, 2010 jam 6:52am
biarlah beban memberat sekarang,
bertubi kekhilafan jaman menguat sekarang,
memaksa senyum memalsu sepalsu palsunya,
tak ada bantuan, masih, masih tak ada,
hingga redup relung do'a, meronta pada nadir yang nyata,
terinjak, terhina, ahh karna kekuatan dunia bebas menginjak,
aku, kita, semoga esok datang melambat, membiarkan malam menidurkan pikir yang terlampau beban
Monday, April 11, 2011
Jaman edan!
oleh : Bhara Martilla Rully Ardian
Jaman edan!
by Bhara Martilla Rully Ardian on Saturday, June 27, 2009 jam 1:25am
Mimpi atau trjaga!, pilihlah,,
Maukah kau mengingat,
pada tulang tulang yang melepuh oleh asin kringat sejarah,
oleh bunga mawar harum mesiu untuk gadisku,
oleh keringat darah yang meruncing membelalak penjajah,
konflik di pemerintahan, dentuman carut marut sukarno yang berbuih mempertahankan de factonya,
oleh keputusanya yang secara sepihak menguliti Tan Malaka, menghapus Muso dan Amir,
di Bandung negeri berapi,
di Surabaya Bung Tomo melantang,
lalu siapa yang kau ingat di Papua?
Di Timor Timor?
Serakahlah yang teragungkan untuk menjadi pejuang yg esa,
siapa pemenangnya? saya,aku, atau kami?
Tasbihkan belatung yg meraja,
seperti konflik di Vietnam dari kaca mata paman sam,
seperti kepala Indian yg dihargai perak recehan, lupakan Navajo, lupakan milisi Palestin.
Kita dijaman mimpi,
pilihlah,
terjaga atau mimpi,
diri tak mau dibenarkan dan sejarah tak pantas ditabukan,
guratan,
apa kau melihatnya?
Rintihan korban genocide dan slavery,
apa kau tak ingin menjadi Gandhi? Mandela?, atau bahkan si black robin hood Malcolm X?
Tindaslah kaummu, ulang manisnya sodomi penyiksaan di Nanjin, Babil, Sodom, Hiroshima dan Auschwitz,
pedihkan lagi dengan menampar istrimu, perkosa anak cucumu,
ingatlah,s ejarah adalah rules of the life!,
percayakah?
Terjaga atau brmimpi, pilihlah..,
lalu kemana tuhanmu,
dimana jawabanNya saat jutaan yahudi dikamp-konsentrasi menangis darah karena keacuhanmu,
saat ribuan jepang di hiroshima dan nagasaki mati karena sejarahmu,
apa mreka musuhmu?
Manusiakah engkau?
Menggeliat, lalu putuslah tali beban kemanusiaan,
kemana dewamu, kemana ego dan kenarsisanmu?
Trgorok nafsu nasionalismu,
dimana sosialistismu,
mati seiring kebangsaanmu,
manusiakah?
Ingat, terjaga atau brmimpi, pilihlah..
Itulah diri kami, binatang yang bermimpi menjadi malaikat, dan membayar smua itu,
dngan patuh!
Mematung!
Bodoh!
Buka matamu, ingatlah, terjagalah, dan bermimpilah hanya untuk esok,
menyelamlah kebawah,
agungkan yg dihilangkan,
agama tak slalu benar,
konspirasi sekuat apapun tak mengkokoh,
lepaskan,
buka matamu,
terjagalah,
Jaman edan!
by Bhara Martilla Rully Ardian on Saturday, June 27, 2009 jam 1:25am
Mimpi atau trjaga!, pilihlah,,
Maukah kau mengingat,
pada tulang tulang yang melepuh oleh asin kringat sejarah,
oleh bunga mawar harum mesiu untuk gadisku,
oleh keringat darah yang meruncing membelalak penjajah,
konflik di pemerintahan, dentuman carut marut sukarno yang berbuih mempertahankan de factonya,
oleh keputusanya yang secara sepihak menguliti Tan Malaka, menghapus Muso dan Amir,
di Bandung negeri berapi,
di Surabaya Bung Tomo melantang,
lalu siapa yang kau ingat di Papua?
Di Timor Timor?
Serakahlah yang teragungkan untuk menjadi pejuang yg esa,
siapa pemenangnya? saya,aku, atau kami?
Tasbihkan belatung yg meraja,
seperti konflik di Vietnam dari kaca mata paman sam,
seperti kepala Indian yg dihargai perak recehan, lupakan Navajo, lupakan milisi Palestin.
Kita dijaman mimpi,
pilihlah,
terjaga atau mimpi,
diri tak mau dibenarkan dan sejarah tak pantas ditabukan,
guratan,
apa kau melihatnya?
Rintihan korban genocide dan slavery,
apa kau tak ingin menjadi Gandhi? Mandela?, atau bahkan si black robin hood Malcolm X?
Tindaslah kaummu, ulang manisnya sodomi penyiksaan di Nanjin, Babil, Sodom, Hiroshima dan Auschwitz,
pedihkan lagi dengan menampar istrimu, perkosa anak cucumu,
ingatlah,s ejarah adalah rules of the life!,
percayakah?
Terjaga atau brmimpi, pilihlah..,
lalu kemana tuhanmu,
dimana jawabanNya saat jutaan yahudi dikamp-konsentrasi menangis darah karena keacuhanmu,
saat ribuan jepang di hiroshima dan nagasaki mati karena sejarahmu,
apa mreka musuhmu?
Manusiakah engkau?
Menggeliat, lalu putuslah tali beban kemanusiaan,
kemana dewamu, kemana ego dan kenarsisanmu?
Trgorok nafsu nasionalismu,
dimana sosialistismu,
mati seiring kebangsaanmu,
manusiakah?
Ingat, terjaga atau brmimpi, pilihlah..
Itulah diri kami, binatang yang bermimpi menjadi malaikat, dan membayar smua itu,
dngan patuh!
Mematung!
Bodoh!
Buka matamu, ingatlah, terjagalah, dan bermimpilah hanya untuk esok,
menyelamlah kebawah,
agungkan yg dihilangkan,
agama tak slalu benar,
konspirasi sekuat apapun tak mengkokoh,
lepaskan,
buka matamu,
terjagalah,
Cita cita saya: koruptor terhebat spanjang masa.
oleh : Bhara Martilla Rully Ardian
Cita cita saya: koruptor terhebat spanjang masa.
Jika waktu kuputar.
Ku ingin sewaktu janin ditemani setan.
Ku ingin lahirku dicampakkan.
Biarlah.
Kubiarkan bisikan kejahatan menjangkitiku.
Kusuburkan naluri untuk menjadi kiri.
Kuasah keahlian merayu durja.
Kubenamkan kebenaran.
Biarlah.
Ku ingin mereka bertanya.
Ku ingin mereka mempertanyakan.
Hujatlah.
Pupuklah kearogananku.
Perbesar naluri aparat penghancurku.
Biarlah.
Aku suka mereka memicik padaku.
Aku cinta mereka membenciku.
Tanam dendam dihatiku.
Pertegas gelap diguratku.
Biarlah.
Aku mau.
Menarilah kemaluanku.
Berjogetlah anus indahku.
Baulah kentut lukaku.
Biarlah.
Dendamku membatu padamu.
Bangkitkan tegaku.
Perjelas nafsu memerasku.
Biarlah.
Aku tak malu.
Banggakan aku dengan jahatku.
Sanjung aku dengan penggorokan nadimu.
Darah hidupmu adalah minumanku.
Kutenggak layaknya martiniku.
Segarkan dahagaku.
Biarlah.
Aku puas.
Ajariku tak peduli pada hidupmu.
Tak peduli pada keringatmu.
Tak pduli pada kesahmu.
Tak pduli pada keluhmu.
Biarlah.
Ini pilianku.
Hitam ini bahagiaku.
Penyelewengan ini tujuanku.
Kusodomi anak cucumu.
Kutikam naluri hatimu.
Aku kuat menghukummu.
Aku tega memanipulasimu.
Perkosa anak gadismu.
Lecehkan istri dan ibumu.
Gantung leher bapakmu.
Biarlah.
Aku suka.
Ini salahmu aku bilang.
Ini buah didikanmu.
Ini korban persepsimu.
Aku tikus lapar.
Aku siap merongrongmu.
Aku bosan menyayatmu.
Menguliti kulit tawamu.
Hingga kau mati trkubur hidup disenyumku.
Cita cita saya: koruptor terhebat spanjang masa.
Jika waktu kuputar.
Ku ingin sewaktu janin ditemani setan.
Ku ingin lahirku dicampakkan.
Biarlah.
Kubiarkan bisikan kejahatan menjangkitiku.
Kusuburkan naluri untuk menjadi kiri.
Kuasah keahlian merayu durja.
Kubenamkan kebenaran.
Biarlah.
Ku ingin mereka bertanya.
Ku ingin mereka mempertanyakan.
Hujatlah.
Pupuklah kearogananku.
Perbesar naluri aparat penghancurku.
Biarlah.
Aku suka mereka memicik padaku.
Aku cinta mereka membenciku.
Tanam dendam dihatiku.
Pertegas gelap diguratku.
Biarlah.
Aku mau.
Menarilah kemaluanku.
Berjogetlah anus indahku.
Baulah kentut lukaku.
Biarlah.
Dendamku membatu padamu.
Bangkitkan tegaku.
Perjelas nafsu memerasku.
Biarlah.
Aku tak malu.
Banggakan aku dengan jahatku.
Sanjung aku dengan penggorokan nadimu.
Darah hidupmu adalah minumanku.
Kutenggak layaknya martiniku.
Segarkan dahagaku.
Biarlah.
Aku puas.
Ajariku tak peduli pada hidupmu.
Tak peduli pada keringatmu.
Tak pduli pada kesahmu.
Tak pduli pada keluhmu.
Biarlah.
Ini pilianku.
Hitam ini bahagiaku.
Penyelewengan ini tujuanku.
Kusodomi anak cucumu.
Kutikam naluri hatimu.
Aku kuat menghukummu.
Aku tega memanipulasimu.
Perkosa anak gadismu.
Lecehkan istri dan ibumu.
Gantung leher bapakmu.
Biarlah.
Aku suka.
Ini salahmu aku bilang.
Ini buah didikanmu.
Ini korban persepsimu.
Aku tikus lapar.
Aku siap merongrongmu.
Aku bosan menyayatmu.
Menguliti kulit tawamu.
Hingga kau mati trkubur hidup disenyumku.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Yang rajin ditengok rakyat syair :
-
oleh : Bhara Martilla Rully Ardian Gedabrus keren dari mulut mulut : (1) pembuka by Bhara Martilla Rully Ardian on Saturday, December 2...
-
Seni dalam bahasa Sanskerta disebut cilpa. Sebagai kata sifat, cilpa berarti berwarna, dan kata jadiannya su-cilpa berarti dilengk...
